Panelis Soroti Gaya Debat Gibran yang Masih Gunakan Istilah Asing
Panelis debat Cawapres pada malam hari ini. Ada Pak Fahmi Radi dan juga Pak Dwi Andreas Santosa. Saya ke Pak Fahmi Radi dulu. Jadi, bagaimana Anda melihat dan juga mengikuti jalannya Debat Keempat pada malam hari ini? Kalau dibandingkan dengan debat kedua calon presiden tadi, saya kira ini ada lebih baik, gitu ya. Apa indikatornya? Lebih banyak membahas masalah-masalah substansi, dan beberapa istilah asing sudah mulai dikurangi, meskipun Gibran masih menggunakan strategi menyerang dengan beberapa yang seolah-olah merendahkan lawan bicaranya tadi. Kemudian, juga KPI sudah menetapkan bahwa singkatan-singkatan harus ada suatu penjelasan. Gibran melakukan dengan sengaja pada saat membahas tentang green inflation. Oke, mestinya ada penjelasan apa yang dimaksud green inflation supaya substansinya itu dibahas. Tapi di luar itu, saya kira ketiganya lebih baik dibandingkan dengan debat sebelumnya.
Baik, saya ke Pak Dwi Andreas. Jadi, bagaimana Anda melihat jalannya debat malam hari ini? Kebetulan kan tadi kami di Kompas, ya, juga mengikuti itu melalui apa dalam arti diskusi yang disiarkan secara langsung melalui YouTube. Memang ada beberapa yang bagi kami debat ya, sebagaimana debat ya, dalam arti banyak hal-hal yang normatif yang disampaikan di sana. Sedangkan di kami sebenarnya saya sangat berharap mewakili sedulur-sedulur tani kami. Saya sudah 27 tahun bergerak di jaringan tani kecil. Ada solusi yang genuin terkait persoalan pertanian, terkait persoalan petani kecil, tersait persoalan pangan. Karena kalau kita lihat selama 10 tahun terakhir ini, yang terjadi justru berbeda jauh dari citacita yang sekarang. Yang sudah 10 tahun yang lalu, dicita-citakan, misalnya, terkait impor pangan yang terus membesar. Dalam 10 tahun terakhir ini, jika catatan kami itu impor pangan itu melonjak dari 10 miliar USD ke 186 miliar USD, hampir dua kali lipat selama 10 tahun terakhir ini. Divisit neraca perdagangan kita juga melonjak hampir dua kali lipat dari 89 miliar USD melonjak ke 162 miliar USD. Itu lalu terkait dengan kesejahteraan petani kita. Ingat betul tahun 2020-2021 sebagai salah satu contoh sampai 2022, itu nilai tukar petani NTP tanaman pangan itu di bawah 100. Dalam arti apa petani rugi. Dan ini kami alami sendiri ketika kami diskusi dengan sedulur-sedulur tani kami. Mereka mengalami kerugian antara Rp250.000 sampai Rp1 juta per panen per tanam. Jadi itu lalu kemudian ada hal yang lain. Kalau kita melihat sensus pertanian tahun 2023 yang baru saja dipublish oleh BPS juga, terjadi penurunan baik penurunan-penurunan yang relatif bagi kita sebenarnya tidak kita inginkan bahwa sektor pertanian petani ini terus mengalami pemburukan. Itu sebenarnya yang penting.
Source: Kompas TV

